Cerpen : Debat

5 min


10014
11.4k shares, 10014 points

Mencari di mana Allah adalah sebuah petualangan besar yang penuh dengan tanda tanya. Tentunya pertanyaan ini sering terlontar dari mereka yang rajin akan ibadah. Rajin akan penganggungan atas Allah. Tak jarang, untuk mendapat jawaban yang tepat, mereka tidak bertanya pada satu ahli agama, tapi 100 ahli agama.

Mungkin sebagian dari kita akan berkata, bahwa Allah berada di mana-mana. Pernyataan ini di dukung oleh pesohor yang lagi terkenal, yang lagi naik daun. Tapi, apakah itu benar ?. Kita dapat menjawabnya dengan membaca kisah Muad dibawah ini

Muad, adalah orang yang rajin mempelajari agama. Bahkan saking rajinnya. ia sering menginap di masjid yang sedang ia singgahi. Pada setiap kesempatan ia singgah di masjid, ia selalu menanyakan pada Ustad setempat, dengan pertanyaan “Di mana Allah ?”.

Ia dapatkan jawaban yang beragam. Mulai dari Allah ada dimana-mana, di hati, di urat nadi, mengalir dalam darah, atau Allah tidak bertempat.

Sebenarnya jika Muad lebih banyak lagi merenung akan bacaan Al-qur’an ia akan temukan jawabannya dan itu sesuai dengan fitrah manusia, Surah Ar-rum ayat 30, yang artinya

” Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, ”

Ya, jawabannya terdapat dalam fitrah yang telah Allah berikan. Tak perlu lagi pengorbanan lebih untuk mendapatkan jawabannya. Namun, karena Muad belum mengetahuinya, ia terus melangkah kan kaki mencari jawaban.

Di suatu masjid ia bertemu dengan seorang tokoh agama, dan ia pun mulai berbincang dengannya. Dari yang awalnya hanya basa basi, menjadi percakapan yang serius. Tiba momennya, ia bertanya pada tokoh itu

“Dimana Allah ?”.

Baca juga : Cerpen : Ketika Cahaya Hidayah Menyapa

Tokoh itu menjawab dengan yakin dan suara lantang, ” Allah ada di hati “, sembari menunjukkan letak hatinya sendiri.

Seperti tidak percaya, Muad pun langsung membantah. ” Di hati ?, jadi selama ini Allah ada di hatiku ? bagaiamana bisa ? apakah hatiku bisa memuat Allah ?

” Tidak !, bukan begitu maksudnya, maksudnya engkau yang terus memikirkannya, dan ia tertanam dalam hatimu “, ujar tokoh tersebut.

Tak merasa puas, dengan jawaban itu, Muad mulai menentang, dan berujar ” Aku tidak percaya dengan apa yang barusan anda bilang, jika Allah ada di hatiku, lalu bagaimana dengan orang yang lain ?, apakah Allah juga ada di hati orang lain ?, jadi Allah itu ada  banyak, sesuai dengan jumlah manusia di bumi ini ? Tidak kah engkau tau bahwa Allah telah bilang bahwa Allah itu satu ?

Merasa di rendahkan, tokoh itu lalu bersuara keras mengusir Muad, ” Anda ingin debat atau ingin jawaban ?!, pergilah dari sini ! ”

Tak kenal lelah, Muad pun melanjutkan perjalanannya menuju masjid yang lainnya. Sesampainya di masjid ia pun berjumpa dengan seorang tokoh agama, namun sayang. Tokoh agama tersebut merokok.

Muad yang dikenal sebagai pemuda yang pintar berdebat pun, mendebat tokoh itu ?

” Wahai ustad, kenapa engkau merokok ? ”

” Kenapa ? ini kan tidak haram, “, balas tokoh tersebut.

” Coba engkau sebutkan, salah satu manfaaat dari rokok ! “.

” Merokok itu menenangkan pikiran, ya membuat kita lebih tenang “.

” Oke, aku ganti pertanyaaannya, sebutkan manfaat rokok bukan dari kacamata penjual dan penikmatnya ! ”

” Anda ini, datang ke sini hanya untuk mendebat ? pergi sana ”

” Engkau takkan mampu menyebutkan manfaat dari merokok, kecuali jika anda adalah penjual dan penikmatnya, pernahkah engkau dengar, bahwa Nabi kita, menyuruh kita untuk meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat ? ” .

Baca juga : Cerpen : Mie Ayam Challenge

Perkataan ini merujuk pada hadist Nabi, yakni dari Sahabat Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda ;

” Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat “. (HR. Tirmidzi)

Sama seperti sebelumnya, Muad pun di usir dari masjid tersebut. Seolah tak jera, ia terus melanjutkan perjalanan menuju masjid lainnya. Tujuan besarnya adalah mencari jawaban di mana Allah.

Tibalah ia di masjid berikutnya, namun kali ini, ia temukan seorang tokoh agama yang di dalam masjid tersebut asik bermain musik dan nyanyian.

Dengan semangat membara, semangat sebagai darah muda, Muad pun langsung mendebat orang tersebut ?

” Wahai ustad, bukankah telah ada hadist Nabi, Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. ”

” Lalu apa ? lagi pula yang kami nyanyikan adalah lagu bertema islam ” balas tokoh tersebut

” Lagu islam ? islam saja melarang alat musik, dan tak akan mungkin ada suara musik, jika alatnya saja sudah haram. Jika kita beribadah dengan musik dan nyanyian, lalu apa bedanya kita dengan nasrani ? mereka beribadah dengan nyanyian pujian dan musik, apa bedanya ?

” Cobalah memahami agama secara makrifat ” ujar tokoh itu membalas perkataan Muad

Karena tak mau memperpanjang masalah, Muad dengan inisiatif sendiri meninggalkan tempat itu. Ya, tujuan awal mencari jawaban di mana Allah, sepertinya tidak akan terealisasi kan bila Muad terus datang dan langsung berdebat

Dengan sabar, ia terus melanjutkan perjalanannya. Tibalah ia di depan rumah, yang seseorang di dalamnya telah meninggal dunia.

Baca juga : Cerpen Seram Hantu Seniman

Dan seperti yang kita tau, di sana diadakan acara tahlilan. Bersimpati, Muad pun duduk di dekat rumah tersebut, sambil bertanya kepada orang disampingnya

” Meninggalnya, karena apa ? “,

” Ia meninggal, karena gagal jantung “. Balas laki-laki di sampingnya

” Taukah kamu, ini seperti acara makan besar, dan tidak ada yang namanya acara makan besar kecuali semua yang datang dalam keadaaan bahagia ”

” Maksud anda ?”

” Ia, cobalah kamu lihat, pantaskah kita makan di tempat yang sedang kemalangan ini, dan yang kemalangan menyiapkan makanan untuk mereka yang datang ?, sedang di jaman para sahabat Nabi, yang datanglah yang membawa makanan ”

” Engkau benar, tapi ini adalah tradisi, kita tidak mungkin membuat kematiannya sama seperti kematian kucing ”

” Tidak akan sama kematian manusia dengan kucing, manusia di mandikan terlebih dahulu, sedang kucing tidak!”

Laki-laki itu terdiam, tidak mampu membalas perkataan Muad. Muad pun pergi dari tempat itu, dan menuju masjid lainnya.

Setibanya di masjid, ia pun bertemu, sekelompok jamaah, yang pemikirannya Khawarij. Suka menteror pemerintah dengan rezim dan hinaan lainnya yang di sambut dengan gema takbir. Mereka ingin mendirikan khilafah.

Baca juga : Cerpen : Seindah Pelangi Memukau Mata

Sebenarnya, tak ada yang salah dari keinginan membentuk negara yang bersistem islam. Namun, perlu di garis bawahi, sistem yang baik seperti itu, tentulah hanya bisa di dirikan juga orang-orang yang terbaik.

” Wahai pemimpin kelompok, apakah dengan menghina pemimpin anda, negara anda akan lebih baik ? lalu apakah pantas perkataan cacian dengan seruan takbir, di gabungkan ? sedangkan yang anda lawan sendiri, masih saudara se iman ? ”

” Ketahuilah, imam Ahmad pernah berkata : ” jika aku punya satu doa yang mustajab, maka aku akan doakan pemimpin, ”

Jika sebelumnya, Muad hanya di usir, kali ini ia di usir dengan lemparan batu.

” Pergi sana, dasar thagut, setan laknattullah ”

Muad pun bergegas lari dari tempat itu.

Hahaha..itu bukanlah pertama kali Muad di usir dengan lemparan batu. Ia juga pernah di lempar batu, oleh sekelompok orang yang tiap tahun, selalu merayakan idul fitri sehari lebih awal dari pada ketetapan pemerintah

Ia bertanya dengan cerdas, ” Jika setiap organisasi bebas menetapkan hari rayanya sendiri-sendiri, di mana lagi ada kebersamaan dalam hari raya ? ”

Ia pun melanjutkan petualangan kecilnya. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang ustad, dan ia bertanya padanya, ” Dimana Allah ?”. Ustad itu menjawab dengan yakin, ” Allah ada dimana-mana ”

” Apakah itu benar ? ” , ” Ya, benar ”

” Jadi Allah itu ada banyak ? “. ” Tidak Allah hanya ada satu ”

” Lalu bagaimana bisa ia bisa di mana-mana, sedang ia adalah satu ?”

Bingung dengan pertanyaan Muad, ustad itu lalu menyarankan untuk bertanya pada teman si ustad, yang jauh lebih berilmu dan ia juga merupakan ustad

Baca juga : Cerpen : Sweater

Di ustad itulah, barulah Muad mendapatkan jawaban yang pas dihati. Tapi ia tak langsung mendapatkan jawabannya, ia hanya di beri petunjuk ” Cobalah lihat orang yang lagi kemalangan, kecelakaan atau yang sejenis dengan itu, dan dengarlah apa yang ia ucapkan ”

Muad teringat, bahwa setiap ia berjumpa dengan orang-orang yang kesusahan, ia selalu dapati perkataan

” Tenang, kita serahkan pada yang Di Atas “.

Tak ada satupun yang berkata,

” Kita serahkan saja pada yang di hati, atau pada yang dimana-mana, ataupun pada yang tidak bertempat “.

Ya, ketika kita menjumpai teman kita yang kesusahan, secara tidak sadar kita pasti pernah mengucapkannya.

Lalu kenapa mengganti fitrah itu hanya karena perkataan orang yang sedang terkenal ?.

Ia temukan jawaban yang pas terkait dimana Allah. Ya Allah bersemayam di atas arsy, di atas langit.

Muad pun punya jawaban keren, jika ada yang berkata padanya, ” Jika Allah berada di atas, lalu apa bedanya ia dengan lampu ? ”

” Allah maha melihat, dan mendengar, apakah sama melihat dan mendengarnya Allah dengan kita ?, begitu juga dengan Allah ada diatas, apakah sama dengan kita yang berada di atas ?”

Jawabannya pasti tidak sama.


Like it? Share with your friends!

10014
11.4k shares, 10014 points

What's Your Reaction?

hate hate
100890
hate
confused confused
302670
confused
fail fail
201780
fail
fun fun
168150
fun
geeky geeky
134520
geeky
love love
33630
love
lol lol
67260
lol
omg omg
302670
omg
win win
201780
win

Comments

comments