Cerpen : Ketika Cahaya Hidayah Menyapa

3 min


10038
13.8k shares, 10038 points

Halo sobat mimin, semoga sehat selalu ya. Kali ini, mimin akan berbagi cerita sedikit tentang orang-orang yang diberikan oleh Allah. Ya, kisah ini, diharapkan mampu menginspirasi kita semua, dalam mengejar kasih sayang Nya.

Sebelumnya, mimin cuma ingin kasih tau, bahwa kisah ini terinspirasi dari kehidupan nyata. Jadi apabila ada tempat, nama, dan kejadian yang sama, maka itu cuma kebetulan belaka.

Disini, mimin akan ceritakan kisah bertemakan tentang hidayah.

Ups, sebelum kita lanjut, kita harus tau dulu, apa yang dimaksud dengan hidayah?.

Hidayah ? Apa sih itu hidayah ?. Hidayah adalah kata lain dari petunjuk, dan setiap orang yang mendapatkannya, pasti akan mengalami banyak perubahan dari dalam hidupnya.

Dengan hidayah, seseorang akan lebih dalam menghadapi permasalahan hidupnya. Dengan hidayah pula, cahaya hati dan pikiran akan terbuka, sehingga menjadikan diri sebagai pribadi yang tenang

Yang tidak grasa grusu ketika masalah datang menghampiri. Yang tetap bisa mencari solusi di situasi pelik. Perlu diketahui, hidayahlah yang banyak orang di bumi mencarinya.

Ya, termasuk juga dengan mimin. Hidayah itu tidak datang sekali, namun datang berkali-kali. Sayangnya kita terlalu pelit dalam berpikir, bahwa hidayah itu selalu ada disamping kita

Kita seperti melupakan hidayah-hidayah kecil hanya untuk berharap hidayah yang besar. Barang kali, hidayah yang miliki, dan memang akan berbeda dari hidayah buatan telenovela di Tv, yang mudah sekali diraih

Butuh waktu, untuk memahami hidayah, namun bukan menjadi alasan, bahwa tak ada waktu untuk memahaminya. Berikut ini adalah kisah bertemakan hidayah, yang mudah-mudahan dapat menginspirasi diri anda

Peluk Tangis Bersama Sang Ibu

Menceritakan tentang seorang pemuda yang kelewat bandel dengan ibunya. Yang pernah mendiamkan ibunya selama satu minggu, hanya untuk bisa berkomunikasi dengan pacarnya.

Tio, adalah nama pemuda itu. Tiap hari, ia selalu habiskan uang saku-nya hanya untuk membeli pulsa, demi bisa telponan dengan kekasihnya. Dan tiap itu pula, dia juga menipu ibunya, untuk menambahkan uang saku-nya yang katanya untuk membayar buku.

Tega memang. Saat itu umur 14 tahun, ayah Tio, sudah meninggal dunia, karena menabrak anjing. Bukannya iba dengan perjuangan sang ibu, Tio justru tampil beringas didepan ibunya.

Ia tak lagi ingin makan bersama dengan ibunya di meja makan. Ia lebih menikmati telponan berdua dengan sang kekasih. Ia kunci pintu kamarnya rapat-rapat, agar ibu tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

Ibu, terkadang ia tak mampu menyembunyikan rasa marahnya. Terkadang, berulang kali kakinya menendang pintu kamar anaknya, dan berkata

” Kita dirumah cuma berdua, tidak bisakah kau beri perhatian pada ibu ?”.

Tak ada balasan sedikitpun dari Tio. Ia masih asyik berdua telponan dengan kekasihnya. Hari ke hari terus berlalu. Tak ada obrolan apapun bersama sang ibu. Hanya sebuah ucapan seperti

” Ibu, aku pergi kesekolah,” dan “Ibu, aku sudah pulang”.

Orang tua mana yang tidak akan menangis, melihat tingkah anaknya seperti itu ?. Pastinya, akan merasa jengkel bukan ?

Saat itu, hari penghakiman seperti telah tiba. Tio, pemuda itu, hendak menjemput kekasihnya di sekolah untuk diantarkan ke rumah.

O iya, perlu diketahui oleh pembaca, Tio sedari kecil tidak bisa bersuara jelas. Sengau adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Ia menjemput kekasihnya ke sekolah, dan hendak mengantarkannya ke rumah kekasihnya itu. Jarak dari sekolah menuju rumah kekasih, sekitar 35 Km.

Namun, demi cinta, Tio pun tidak keberatan. Ia dengan senang hati melakukannya. Didalam perjalanan, mereka diguyur hujan yang deras.

Bak film-film india, Tio mulai membuka kemejanya untuk di jadikan pelindung kepala untuk kekasihnya. Dalam perjalanan tersebut, yang mereka obrolkan hanyalah masalah-masalah biasa.

Baca juga : Cerpen seram hantu seniman

Sementara hujan terus turun dengan lebatnya. Beberapa kali mereka harus berhenti di pinggir jalan.

Tak ada tanda-tanda, bahwa kekasihnya akan memutuskan Tio. Tak ada kecurigaan sedikit pun yang menghampiri Tio.

Inti Cerita

Sesampainya dirumah kekasih, Tio pun bertemu dengan ayah si kekasih. Itulah pertemuan perdana Tio dengan calon mertua.

Namun, tak banyak yang mereka bicarakan, karena si Tio, buru-buru ingin pulang.Tio, pun pulang dari rumah kekasih. Jarak dari rumah kekasih menuju rumah Tio, sekitar 20 Km.

Waktu terus berlalu, dan sampailah si Tio dirumahnya. Di rumah, ia langsung mendapatkan chat dari kekasih.

“Maaf, kita tidak bisa lanjutkan hubungan ini, ayahku takut punya keturunan yang cacat”.

Bagai petir yang menyambar, terasa tak percaya, Tio pun balik membalas kekasih,.

“Aku tau, aku cacat, tapi aku mencintaimu, percayalah, anak kita kelak tidak akan cacat, aku akan yakinkan ayahmu”.

“Maaf, aku tak bisa” balas si kekasih.

Berulang kali, Tio berusaha menghubungi kekasih. Berulang kali pula, ia tak dibalas oleh kekasih.

Cengeng, Tio pun mulai menangis, dan selera makan ia langsung hilang.Ia hanya makan mie saja semenjak kekasih memutuskan hubungan.

Sebuah pukulan mental yang teramat dalam sebelum ujian datang. Ya, sehari setelah kejadian itu, Tio harus fokus akan diri sendiri, karena akan menghadapi ujian.

Dan seperti yang sudah tebak, Tio, adalah satu-satunya siswa yang gagal dalam ujian. Tatapannya kosong. Di rumah ia tak lagi berbicara dengan ibunya selama satu minggu penuh.

“Kamu sudah makan nak ?”.

Hening. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Tio. Tiap hari ia hanya didalam kamar mengurung diri. Hingga tibalah saat malam minggu

Tio, melaksanakan shalat maghrib dikamar yang telah ia kunci. Selepas sholat ia berdoa, berdoa dengan sangat khusyuk, sampai air matanya mengalir

Dari luar kamar, terdengar suara ibu yang memanggil

“nak, ayo keluar, kita makan”.

Tio, pun keluar dari dalam kamar, dan langsung memeluk ibunya, sembari berkata :

“Maafkan aku ibu, Maafkan, Maafkan aku ibuku”.

Ibunya merasa heran dan hanya bisa diam. Tio berulang kali mengucapkan itu, hingga membuat ibunya iba dan ikut menangis

“Iya, sudah ibu maafkan Tio, berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi”.

Semenjak itu, hubungan ibu dan Tio sangat akrab, saling menjaga dan sayang satu sama lain.

Sehari setelah kejadian itu, kekasih menghubungi Tio dan memberitahu sesuatu

“Kak, aku sudah punya pacar baru”

Dengan gagah, Tio menjawab. ” Semoga pilihanmu, membuat ayahmu senang!”.

Cinta itu tak butuh kata sempurna.Cinta hanya butuh pengorbanan dan rasa saling mengerti satu sama lain. Semoga menginspirasi ;D


Like it? Share with your friends!

10038
13.8k shares, 10038 points

What's Your Reaction?

hate hate
235410
hate
confused confused
100890
confused
fail fail
336300
fail
fun fun
302670
fun
geeky geeky
269040
geeky
love love
168150
love
lol lol
201781
lol
omg omg
100891
omg
win win
336301
win

Comments

comments