Cerpen : Seindah Pelangi Memukau Mata

4 min


10037
13.7k shares, 10037 points

Halo sobat mimin, semoga sehat selalu ya.

Kali ini, mimin akan bercerita tentang drama dalam kehidupan manusia.

Drama tersebut terinspirasi dari kisah nyata yang mimin alami dalam perjalanan hidup. Kisah ini, menceritakan sosok ayah yang mimin punya. Untuk anda yang tidak tahan akan kisah sedih, miimn saranin untuk tidak membaca kisah ini.

Saking terinspirasi dengan sosok ayah, mimin pun ingin membuat cerita pendek dari kisah ayah. Kisah ini berisikan 3 hari sebelum ayah wafat. Ya, ayah mimin sudah wafat pada tahun 2011.

Sebenarnya mimin tidak berniat untuk membuat cerita kali ini, namun karena mimin lagi kangen, maka mimin akan mengabadikan kisahnya dalam sebuah cerpen yang berjudul

Cerpen : Seindah Pelangi Memukau Mata

Tahun 2011, adalah tahun kelam yang aku alami saat itu. Tahun dimana banyak sekali kesedihan yang datang menghampiri.

Tahun yang dipenuhi dengan cahaya gelap meski saat disiang hari. Didalam hati ingin menjerit kencang dan berkata “ingin ku teriaaaak”. Hahaha, bukan lagu ya. Lagi pula, aku sangat membenci lagu yang bertemakan kesedihan

Karena, itu hanya akan membuatku teringat dengan ayahku. Aku malas untuk menangis terseduh-seduh. Bagiku, laki tak boleh memperlihatkan air matanya pada orang lain.

Sebuah tekad, yang aku langgar sendiri. Ya, aku tak tahan untuk menangis. Ada dua momen, dimana aku menangis didepan saudara dan temanku

Yang pertama, aku menangis karena mengingat masa laluku yang penuh akan kebohongan, kedustaan, kenistaan. Dan yang kedua,  terjadi saat aku mempelajari lebih dalam apa itu islam.

Kembali kepangkal cerita. Saat itu, ayahku adalah mantri hewan. Tiap hari dia selalu siap sedia melayani pasien pasiennya. Entahlah, seperti pekerjaan ayahku itu, sudah menjadi hobi bagi dirinya.

Ayahku terkenal dimana-mana oleh mereka pemilik hewan dan binatang, layaknya sapi dan kambing. Tangan ayahku, selalu lihai dan cekatan mengobati binatang-binatang tersebut.

Aku sering ikut bersamanya saat masih bocah. Ya, sekitar umur 6 sampai 7 tahun, sebelum aku masuk SD. Menyenangkan rasanya saat melihat para binatang tersebut sembuh seketika.

Ayahku adalah pahlawan bagiku. Memang kekuatannya tidak seperti Captain America, dan juga tidak secerdas Tony Stark, namun ialah Avenger yang paling kuat bagiku.

Ayahku tidak pernah menetapkan tarif dalam pengobatan yang dilakukan olehnya. Dia menerima dengan apa adanya bayaran yang ia dapatkan dari pemilik binatang.

Sungguh aneh tidak menetapkan tarif. Tentu biaya untuk mendapatkan obat sangat mahal, namun ayahku mengabaikannya.

Ia lebih mementingkan kesehatan binatang ketimbang resiko mengalami kerugian.

Aku merindukan dirinya. Ada masanya, saat aku dan adikku dibonceng bersama dengan motor Win. Motor yang sudah menjadi landmark ayahku.

Semua pelanggannya hafal akan suara motor yang dipakai oleh ayahku

Namun, perlu diketahui, bukan motor yang dibawa ayahku saat kecelakaan yang merengut nyawanya. Melainkan motor supra dengan plat merah.

Ayahku meninggal karena tabrakan dengan seekor anjing, kepala bagian belakang terbentur dengan keras mengenai aspal.
Bagian tersebut membiru dan bengkak. Dokter bilang, jika pun selamat, ia akan alami geger otak.

Baca juga : Cerpen-Sweater

Sulit bagiku untuk mempercayai ayahku sudah tiada. Aku merasa ini seperti mimpi buruk yang apabila aku bangun, itu tidak terjadi

Sampai sekarang aku masih berharap demikian

Beruntung, aku masih memiliki sosok ayah pada ibuku. Ibuku berjuang keras untuk menghidupi ketiga anaknya, hingga aku besar dan masuk perguruan tinggi. Sebuah pencapaian yang luar biasa dari janda beranak tiga.

Ya, sama seperti kata orang kebanyakan. Akan ada keanehan yang dibuat sebelum seseorang meninggal. Misalnya dengan melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilakukan.

Sebelum meninggal, aku dan ayahku sempat berkelahi mulut. Saat itu, aku berkata “pergilah yang jauh!”.

Ya, sebelum meninggal, aku sempat ingin dibuang oleh ayahku. Dia mengikat tanganku dengan kencang, dan dia masukan aku kedalam mobil.

Aku tidak tau mau dibawa kemana, tapi yang jelas, saat itu aku ingin dibuang dijalan. Ibuku menangis hebat, menahan agar diriku tidak dibuang.

Ya, untung saja, aku tak jadi dibuang. Masalahnya klasik, aku sering bertengkar dengan adik laki-lakiku. Sebagai catatan, aku dan adikku adalah saudara kembar.

Meskipun kembar, kami jauh dari kata akrab layaknya animasi Upin Ipin. Tiap hari, kami selalu bertengkar untuk hal-hal yang tidak masuk akal. Terkadang kami berkelahi, karena ejekkan nama “An” dan “In”.

An melambangkan nama Andri, dan In melambang nama Indra. Lucu bukan ? masalah sepele. Tapi karena kami belum dewasa, ya begitulah akhirnya. Kami selalu bertengkar.

Sedih, jika aku mengingat diriku yang hampir dibuang oleh ayahku sendiri. Aku rasa, ayah berhati batu. Bahkan, saat ia meninggal, aku sedikit merasa lega. Jahat, ya aku jahat

Meskipun aku menangis, aku tak bisa hilangkan perasaan legaku. Satu dari masalahku, sudah hilang. Aku tak lagi selalu disalahkan saat terjadi pertengkaran dengan adikku.

Di hari kedua, sebelum ayahku meninggal, dia sempat menanyakan diriku, mau makan apa malam ini ? Ciken Taki ? (Chicken, atau gorengan ayam semacam KFc namun versi rakyat). Aku hanya jawab, “Pergilah yang jauh”.

Sebuah kalimat, yang benar-benar terjadi.

Ayahku selalu berpesan, “jadilah pelangi yang datang saat langit telah menangis”. Aku rasa, inilah pelangi yang dimaksud oleh ayahku.

Aku tumbuh jadi laki-laki yang tidak takut lagi akan dunia luar. Aku menjadi sosok yang selalu gembira bila berjumpa denganku.

Hal itulah yang sampai saat ini, masih aku bawa hingga di perguruan tinggi
Memang sih, sebagian temanku merasa risih dengan sifatku, yang bisa dibilang, masih bocah.

Tapi, tak apa aku senang menjadi diriku sendiri, tanpa harus berpikir tentang menjadi sosok yang dewasa.
Saat itu, keanehan dari ayahku mulai tampak.

Ia mengganti kuda balapnya, maksudnya motornya, dengan Honda Supra, dengan plat merah.

Aneh, karena ayahku tak biasanya menggunakan motor tersebut. Dari sini muncul firasat burukku.

Hari ketiga, saat itu ia pergi sebelum malam tiba. Dengan menggunakan motor Supra tersebut. Dan saat malam tiba, tetangga ku menghampiri rumahku dan bilang

“Ayah kamu kecelakaan”

Sontak, kami sekeluarga kaget dan langsung menuju puskesmas, tempat dimana ayahku sedang dirawat. Kondisinya memburuk, ia tak bisa sadarkan diri, dan terus-terusan mendengkur kuat

Aku, yang saat itu dibaluti kebencian akan ayahku, enggan melihatnya masuk kedalam puskesmas. Aku hanya berdiri diluar sembari menahan dinginnya malam. 15 menit berlalu. Akhirnya ayahku dirujuk untuk pergi ke rumah sakit yang lebih memadai

Dengan mobil, kami sekeluarga berangkat menuju rumah sakit yang jaraknya sekitar 1 jam. Ayahku masih dalam keadaan koma, tidak sadarkan diri.

Entah aku ini berhati setan atau tidak, aku menganggap kejadian itu akan segera berlalu dan ayahku akan sembuh. Dan setelah sembuh, aku akan tetap lanjutkan perasaan membenciku terhadapnya.

Baca juga : Cerpen : Kota Rawa

Jahat sekali aku ini  ya. Tapi semua itu berubah, saat aku tau, bahwa ayahku saat mengingikan dirku menjadi orang sukses meski dalam keterbatasan. Aku tau itu dari ibuku. Tiap malam, ia selalu berbicara akan diriku

Hatiku terasa dingin mendengar fakta itu. Sesampainya dirumah sakit, ayahku masih belum sadar, dan terus mendengkur kuat. Yang aku lakukan, hanya diam dan diam.

Aku diam seribu kata, tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku ingin masuk ke ruangan dimana ayahku dirawat, namun tidak boleh. Disana aku dengar ibuku yang coba men-talkin-kan dirinya.

Sepertinya, peluang ayah untuk selamat mulai menipis. Dan disitu, aku mulai merasa, harus kehilangan satu dari dua hero yang aku punya. Aku tak ingin kejadian yang sama menimpa ibuku.

Hampir dua jam, kami sekeluarga berada dalam rumah sakit itu. Hingga akhirnya, kami disuruh rujuk untuk ke rumah sakit yang berada dikota. Perjalanan dari rumah sakit menuju kota, hampir memakan waktu tiga jam lamanya

Kami pun bergegas kencang menuju kota. Namun, Tuhan berkata lain. Ia ambil nyawa ayahku saat masih diperjalanan menuju kota.

Aku tak menangis. Aku tahan rasa sedihku, selama satu minggu. Ya, aku hanya diam, tak meneteskan air mata sedikitpun. Saat itu aku ingat pesan ayahku.

“jadilah pelangi yang datang saat langit telah menangis”

Ya. Aku ingin menjadi pelangi itu. Meskipun berat, aku takkan menangis. Dan ayah, meskipun kau berikan aku pengalaman buruk. Aku kan berikan untukmu doa terbaik.

Ayah, lihat aku!! Aku jadi pelangi yang bewarna yang datang menghibur keluargaku, saat keluargaku menangis.

Ya. Aku adalah pelangi ayah.


Like it? Share with your friends!

10037
13.7k shares, 10037 points

What's Your Reaction?

hate hate
302670
hate
confused confused
168150
confused
fail fail
67260
fail
fun fun
33630
fun
geeky geeky
336300
geeky
love love
235410
love
lol lol
269040
lol
omg omg
168150
omg
win win
67260
win

Comments

comments