Cerpen : Tanda Hitam di Kening | Zona Baper ID

Cerpen : Tanda Hitam di Kening

5 min


10030
13k shares, 10030 points

Setelah seorang jamaah mushala mal itu iqomah, kemudian di antara mereka saling melihat dan baku sila. Saling tunjuk, untuk menjadi imam shalat Maghrib. Dan entah kenapa orang-orang itu akhirnya dengan tatapan yakin, dan sedikit tekanan melalui suara, “Silakan, Akhi,” mendaulatnya menjadi imam shalat. Ia pun tersenyum, segera mengambil tempat di sajadah depan, khusus imam. Tak ingin berlama-lama dengan adat saling tunjuk-tolak menjadi imam shalat. Ia menoleh ke belakang, memastikan shaf rapat dan rapi. Para pengunjung mal, jamaah mushala merasa lega. Ada yang menjadi imam shalat kali ini, asal bukan salah satu di antara mereka. Mereka sangat senang, bila sosok yang saleh terselip di mushala Mal.

Kembali kepada dia, selesai shalat ia meninggalkan mal yang terlihat ramai dengan orang-orang berlalu-lalang. Suara musik mengalun dengan tingkatan sedang. Tadi ia hanya mampir, bertemu bos-nya. Disuruh mengambil dokumen yang sudah ditanda-tangani. Ketika berada di teras mal, hawa palak menghantam. Suara deru kendaraan bergelora. Dia melompat ke sebuah angkutan, menuju stasiun kereta. Perjalanannya masih cukup jauh.

Tiba di stasiun, waktu sudah memasuki shalat Isya. Macet membuat jarak dekat, memakan waktu lama. Ia langsung menuju mushala stasiun, di bagian pojok belakang. Tampak beberapa orang jamaah laki-laki sudah bersiap-siap shalat. Dari penampilan mereka, sepertinya mereka penumpang yang baru pulang bekerja, yang berpakaian sedikit santai, mungkin saja mereka pulang dari berdagang atau berkunjung ke sanak saudara.

“Silakan, Akhi,” ujar salah seorang pria berperawakan sedikit gemuk. Tangannya merujuk kepada sajadah bagian imam di sudut depan, “Sudah iqomah tadi.”

***

Dia mengangguk, tersenyum masygul. Mereka menunggu seseorang yang mau menjadi imam shalat. Sebab, di antara mereka mungkin tidak ada yang bersedia, dengan berbagai alasan. Dan ia tidak mau memperlama dengan kembali saling menunjuk seseorang lagi. Para jamaah menghela napas lega. Dia mengambil tempat imam, memeriksa shaf. Kemudian menyuarakan takbiratul ihram seraya mengangkat tangan dengan telapak menghadap kiblat.

Selesai shalat, satu per satu jamaah meninggalkan mushala. Jamaah lain yang hendak shalat masuk ke mushala. Ada yang langsung shalat sendiri, ada juga yang seperti menunggu jamaah lain, untuk shalat berjamaah. Ia kemudian melangkah menuju peron. Kereta datang dan pergi, memuntahkan orang-orang, menelan orang-orang. Dia pun melompat ke gerbong kereta jurusan rumahnya. Menyelipkan tubuh dengan tenaga memaksa dalam gerombolan penumpang lain. Sudah ada semacam saling pemakluman di antara para penumpang kereta. Bahwa mereka harus saling berlega hati, meski di kereta berdesak-desak tak bergerak.

Baca juga : Cerpen : Debat

***

Dalam pergerakan kereta, ia termenung-menung. Pandangannya ke luar pintu kereta. Cahaya dari rumah penduduk di tepi rel berlarian dalam gelap. Penumpang khusyuk dengan gawai masing-masing. Tidak ada yang bercakap-cakap. Sebagian memilih tidur. Gerbong ditingkahi suara dari lcd tv dan operator kereta bila hendak tiba di tujuan. Entah kenapa, perasaan yang semula tak dianggapnya selama ini, belakangan ini muncul di permukaan pikiran dan hatinya. Semula rasa janggal yang ringan. Namun ia mulai mempertanyakan dalam hatinya. Tak sadar ia mengusap permukaan keningnya. Ia melihat bayangannya pada pantulan kaca pintu kereta. Ada kesat tepat pada ujung keningnya, berwarna ungu gelap. Hatinya tak nyaman.

Belakangan dia mulai berjarak dengan mushala. Tepatnya, ia merasa tak nyaman bila ada orang lain saat ia shalat. Pernah saat shalat sendiri, ada seseorang yang menepuk pundaknya, untuk ikut berjamaah, hatinya terkolang. Tapi ia berusaha khusyuk pada shalatnya. Kemudian ia beristigfar dengan rasa sendu. Ia menyalami beberapa orang jamaah di belakangnya. Mereka tersenyum ramah kepadanya. Ia menyambutnya dengan anggukan yang kikuk.

***

“Baru pulang, Pak?” sapa seorang lelaki setengah baya saat mereka berada di penitipan sepatu. Lelaki itu mengenakan songkok putih yang biasa dipakai orang berhaji.

“Ya, Pak. Mampir dulu untuk shalat. Kalau shalat di rumah takut tidak keburu….”

“Sungguh kagum saya dengan anak muda yang rajin shalat dan mengutamakan shalat. Tidak terbuai dengan kesibukan dunia dan pekerjaan,” ucap lelaki itu.

“Ya, Pak,” jawabnya pendek.

Ia tidak tahu akan berucap apa. Sebab takut ada kesombongan terbetik di belakang hatinya.

“Lihatlah, kening Anda ini sudah berwarna hitam. Tanda orang ahli ibadah,” ucap lelaki setengah baya itu lagi.

Lelaki itu rupanya sudah selelesai mengenakan sandal bertalinya. Kemudian ia mengangkat kantong hitam berisi baju-baju, sepertinya itu dagangannya.

“Saya tidak bermaksud tanda ini ada di kening saya. Tiba-tiba timbul saja,” sahutnya serba salah.

“Oh, tidak apa-apa. Anda ini beruntung. Banyak orang-orang yang ingin ada tanda ini di keningnya. Berbagai cara dilakukan, seperti meletakkan lempengan batu di sajadahnya. Saya juga ingin ada tanda hitam di kening saya. Karena orang-orang di lingkungan saya mengetahui saya ini sudah naik haji. Rasanya ada yang kurang kalau keningnya masih polos begini,” tutur lelaki itu sembari tertawa masygul. Tangan kirinya menggosok-gosok kening, seakan dengan begitu di keningnya muncul tanda hitam.

Baca juga : Cerpen : Ketika cahaya hidayah menyapa

***

Ia tersedak oleh ludahnya sendiri. Lehernya terasa kering. Mereka melangkah pelan menuju peron stasiun. Orang-orang lalu-lalang dan pengumuman dari pelantang suara terasa lenyap dari pendengarannya. Medadak saja ia merasa ada sesuatu yang janggal pada dirinya. Dia rasakan tatapan orang-orang kepadanya seperti menuntut. Dia merasa sesak di hatinya, sebab ia merasa telah memikul dunia beserta dosa-dosanya. Dia melihat orang-orang itu demikian letih dan lemah. Perlu orang lain yang akan memanggul beban derita mereka. Sepertinya orang-orang itu telah menemukan sosok itu. Pada dirinya, meski sekadar saat menjadi imam shalat berjamaah. Jantungnya begolak lebih kuat. Darahnya berdesir-desir. Namun tubuhnya lungkrah.

Sebelum mereka berpisah pada peron yang berbeda, sempat dilihatnya lelaki itu tersenyum dengan rasa takzim. Serta-merta dia merasakan ada sesuatu yang merambati lambar hatinya. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang dirasakannya dahsyat, sekaligus membuat dia gelisah. Suatu kejadian di luar syak wasangkanya telah menimpa. Beban itu menjadikannya cemas berlarut-larut. Kemudian dia gampang menggigil bagai terserang demam.

***

Tidak seperti biasanya, kali ini istrinya yang menepuk betisnya agar bangun. Azan Subuh telah berkumandang beberapa menit lalu.

“Kau sedang sakit?” tanya istrinya penuh pengertian.

Sesaat ia tercenung di tepi dipan. Kakinya terasa berat melangkah mengambil wudhu. Telah beberapa kali ia tidak shalat Tahajud. Membuat istrinya gusar sebenarnya, namun tak diperlihatkan.

Dia menggelengkan kepala kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Menghempas napas berat.

“Kalau tak sakit, kuperhatikan kau tak bersemangat belakangan ini. Bahkan membangunkan aku shalat Tahajud saja sudah tidak lagi. Malah melangkah ke masjid saja kau sepertinya enggan,” tutur istrinya sembari mengusap pundaknya penuh kasih.

“Aku rasanya ingin pergi ke dokter kulit,” gumamnya seraya beranjak dengan kaki berat ke kamar mandi.

Sesaat lagi, shalat Subuh di masjid akan dimulai. Dia akan mendapat shaf paling belakang. Dia sekarang melakukannya dengan sengaja.

***

Boleh saja istrinya menyangka ia sedang merajuk, ketika ia ingin ke dokter kulit. Bahkan istrinya tak mengerti untuk apa dia mendatangi dokter. Toh selama ini ia tidak bermasalah dengan kondisi kulitnya. Istrinya tergelak ketika dia menanyakan dokter kulit khusus wajah.

“Kau sedang dalam pengaruh hormon lelaki paruh baya. Wudhu dan shalat telah membuat wajahmu jernih tak berkerut. Kalaupun ada kerut, itu tak seberapa mengganggu,” gurau istrinya.

Tentu saja istrinya tidak mengerti hal yang mengganggu dirinya. Sama seperti orang-orang yang sering bepapasan dengannya. Bagi mereka tidak ada yang mengganggu pada wajahnya. Dia kerap merasa, orang-orang itu menatapnya dengan kagum. Sebab ia memiliki apa yang tidak semua orang punya. Tetangganya mengangguk dan menyapa santun saat berpapasan di gang menuju rumah. Dia kerap diberikan shaf paling depan saat shalat berjamaah di masjid kampungnya. Ia sering diundang saat ada kegiatan warga, dari acara sunatan sampai pengajian di RT.

***

Ketika pulang dari pengajian warga, ia sengaja melangkah tergesa-gesa. Tak hendak ngobrol-ngobrol dengan dengan sekelompok jamaah lain. Namun seseorang seperti mengekori langkahnya.

“Wah, buru-buru kelihatannya, Pak,” sapa orang itu.

Dia menghentikan langkah. Dilihatnya Pak Nursan tersenyum ramah. Mereka besalaman dan melangkah bersama. Beberapa kali dilihatnya Pak Nursan mengusap wajahnya, sembari merapikan janggut sambil lalu. Sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaan lelaki itu. Seperti halnya warga lain, ia mengenal Pak Nursan orang santun dan rajin pergi ke masjid. Sering kali menghadiri pengajian di mana pun. Pendeknya Pak Nursan sangat disegani di kampungnya karena perilaku alimnya. Sedangkan dirinya merasa heran, sebab selama ini jarang sekali bertegur-sapa dengan Pak Nursan. Hal apa yang membuat ia bisa bersijajar jalan dengan lelaki saleh ini.

Mereka bercakap-cakap ringan sepanjang perjalan di gang kampung itu. Ketika akan berpisah di halaman rumah Pak Nursan, mereka berhenti.

Baca juga : Cerpen seram hantu seniman

“Sekali-sekali datanglah ke pengajian kami. Mungin Akhi bersedia,” ujar Pak Nursan, kembali mengusap wajahnya yang teduh bersih.

Dari paparan lampu jalan, ia melihat samaran tanda kehitaman itu. Kembali Pak Nursan mengusap wajah dengan raut biasa. Tapi lidahnya kering. Dia rasakan, Pak Nursan sangat menyayangi tanda di keningnya itu. Tahulah ia, kenapa Pak Nursan ingin berjalan dan menegurnya saat pulang pengajian tadi. Hal yang selama ini tak pernah dilakukan lelaki itu. Karena di keningnya telah tertera tanda yang sama.

Dia hanya bisa mengangguk dengan kepala berat. Setelah bersalaman, dia ingin segera merebahkan tubuh di tempat tidur. Tubuhnya lungkrah. Setelah ini, ia semakin bertekad menemui dokter kulit yang paling manjur di kota ini. Tanda hitam ini terasa terlalu berat dan pongah tertera di keningnya.

 


Like it? Share with your friends!

10030
13k shares, 10030 points

What's Your Reaction?

hate hate
302670
hate
confused confused
168150
confused
fail fail
67260
fail
fun fun
33630
fun
geeky geeky
336300
geeky
love love
235410
love
lol lol
269040
lol
omg omg
168150
omg
win win
67260
win

Comments

comments